Hore!!! Trio Persebaya Diangkat Jadi Karyawan Dispora Surabaya

♠ Posted by punggawa bola




Tiga mantan punggawa Persebaya  yakni Mat Halil,  Endra Prasetya dan Jatmiko diangkat menjadi pegawai Dispora Surabaya.  Ketiganya sudah berkantor di  Jimerto –kantor Pemkot Surabaya- sejak 1 Desember 2015 lalu.   Ketiganya  diangkat sebagai bentuk  kepedulian Pemkot Surabaya kepada nasib para pemain. Apalagi, saat ini, kondisi sepakbola nasional juga masih vakum.   Mereka diangkat  melalui kebijakan langsung Walikota Surabaya Tri Rismaharini.
Risma sudah menyiapkan rencana untuk ketiga orang ini dan beberapa mantan pemain sepakbola yang sudah lebih dulu bergabung.   Mereka akan  didorong untuk menggerakkan geliat pembinaan sepakbola di Surabaya. Dimana dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini terbengkalai disebabkan terkoyak oleh dualism Persebaya Surabaya.
Selain ketiga pemain ini, beberapa mantan pemain juga sudah bergabung di Dispora. Diantarnya Anak Makruf, Bejo Sugiantoro, Yusuf Ekodono. Malah, Ibnu Grahan, pelatih Surabaya United sudah diangkat menjadi PNS dan bertugas di Dispora Surabaya. (pb)

Kamis, Sidang Gugatan PT PI vs PT MMIB Kembali Digelar

♠ Posted by punggawa bola




ARENA, 2 Februari 2016  Sidang gugatan merek yang diajukan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) yang  terhadap PT Persebaya Indonesia bakal kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis, 4 Februari 2016.   Ini merupakan sidang ketiga yang dijalani kedua pihak.  Agenda sidang kali ini yakni mendengarkan jawaban pihak PT Persebaya Indonesia (PI)  (duplik) atas replik yang diajukan PT MMIB pada sidang sebelumnya yakni Kamis, 25 Januari 2016.
PT PI menggunakan jasa tim lawyer dari Jakarta. Sedang PT MMIB memakai jasa lawyer Amir Burhanudin yang juga Sekretaris Provinsi PSSI Jatim. Sebagai informasi, sidang ini  diajukan PT MMIB yang sebelum ini dikenal  sebagai badan hukum yang menaungi Persebaya United.  Hanya saja, setelah keluarnya SK Menkumham yang menyatakan bahwa Merek  Persebaya menjadi milik PT Persebaya Indonesia, MMIB kebakaran jenggot. Alhasil, Persebaya United beralih nama menjadi Surabaya United . Tak hanya nama klub, wadah suporternya pun berganti nama menjadi Alligatormania. (pb)

Benarkah Hari Kemenangan Itu Telah Tiba?

♠ Posted by punggawa bola




Hari-hari terakhir, pasca diterbitkan sertifikat merek oleh  Departemen Hukum dan HAM (Depkumham), jujur saja,  sulit rasanya menjumpai wisdom di Surabaya, khususnya diseputaran perbincangan Persebaya. Baik manajemen,  bonek maupun elemen lainnya. Yang ada, justru rasa miris dan ngeri. Kenapa? Di beranda facebook, twitter dan jejaring sosmed lainnya, begitu mudah  dijumpai hujatan, cacian dan makian.  Kasak kusuk dan saling curiga terbangun.
Khususnya pada manajemen yang dalam hal ini, terwakili pada sosok Saleh Mukadar dan Cholid Ghoromah.  Ya, dua orang ini memang menjadi ‘bintang’ di Persebaya saat ini, pasca kemenangan hak merek. Maklum, Saleh menguasai 50 persen saham Cholid 30 persen dan koperasi klub anggota 20 persen. 
Komposisi yang dirasa tak adil ini, pada akhirnya menjadi isu sensitive. Jauh, sebelum turunnya sertifikat merek ini, isu ini selalu yang dipakai pihak rival, untuk memperlemah gerakan arek-arek bonek 1927. Loyalitas dan  perjuangan yang ditunjukkan pada Persebaya (1927) dianggap semu karena pada hakikatnya PT Persebaya Indonesia hanya dimiliki sosok  Saleh dan Cholid.  Beruntung, arek-arek tak goyang oleh isu ini. Apalagi, setelah Saleh membuat pernyataan hitam putih, kesediaan menyerahkan 50 persen saham miliknya ke klub anggota. Kabarnya, surat pernyataan itu ada di tangan Cak Andi Peci dan Cak Joner (mhn klarifikasi kalau salah).
Pasca  21September, ini  tanggal keluarnya sertifikat, isu urusan saham ini, kembali mencuat.  Entah bagaimana ceritanya, yang terrekam di pemberitaan media dan sosmed, ada arus kuat agar Bonek diberi kesempatan dapatkan saham kepemilikan . Eh, di sisi lain, manajemen menutup diri, menegaskan tak ada pintu untuk datangnya ‘orang baru’ dalam komposisi saham PT Persebaya Indonesia.
Dan, distorsi pun kemudian di mulai. Entah bagaimana, statemen aslinya seperti apa, yang terjadi hujatan dan cacian mengalir begitu derasnya.   Bonek dan Manajemen pun berada di   simpang berbeda dan dalam posisi berhadap-hadapan. Saling ancam dan kecam pun mewarnai.
 Well, mari kita kembali ke pertanyaan seperti judul di tulisan ini;  Benarkah Hari Kemenangan  Itu  telah Tiba?  Sehingga  manajemen dan bonek yang awalnya satu menjadi  terbelah seperti sekarang ini?  Apalagi, oleh isu urusan  rebutan saham seperti  ini?  Saya yakin, ini bukan keinginan teman-teman bonek. Tapi, opini yang berkembang di luar, tak disangkal  mengarah ke sana. Bonek minta saham dan Manajemen Persebaya menolaknya. (Ini analisa dari rekam media dan persepsi yang ditimbulkannya).
Jujur saja, jika keluarnya sertifikat merek Depkumham, sebagai hari kemenangan, rasanya kok jauh banget. Menurut saya, sertifikat itu justru menandai awal perjuangan baru. Yang, awalnya digalang dari jalanan –lewat aksi demo bonek- mengarah pada ranah hukum, legalitas formal.  Ingat, PT  Persebaya  Indonesia masih bersengketa di pengadilan  dengan PT MMIB. Sertifikat itu, bisa memperkuat argument hukum yang disampaikan di pengadilan. Bukannya menjadi akhir dari perjuangan. Bagaimana bila nanti pengadilan ternyata menyatakan  PT Persebaya Indonesia kalah? Ini tentu, akan menimbulkan ketidakpastian lagi.
Sejatinya, sertifikat merek ini, bisa menjadi kartu truf di pengadilan.  Asal saja, tak keburu dipublikasikan besar-besaran. Sepanjang, Senin, 21 September 2015 lalu, yang saya amati di beranda facebook, manajemen dan bonek sepertinya saling berebut untuk meng-upload keluarnya sertifikat ini.  Jika tak salah, diawali oleh akun Andi Peci, up load foto dirinya dengan menenteng sertifikat. Selang beberapa jam kemudian,  akun Saleh Ismail Mukadar  upload  materi yang sama. Hanya saja, kali ini  jumlah personelnya lebih  banyak. Ada Andi Peci, Cholid Ghoromah dan beberapa orang.  Petang hari, giliran akun Ram Surahman yang up load sertifikat ini. Kali ini, yang nampang gambar Andi Peci dan Cholid. Besoknya, Harian Jawa Pos mengulas panjang keluarnya sertifikat merek ini.
Di era yang sudah sangat terbuka seperti sekarang ini, memang susah menghalangi atau membatasi soal-soal seperti ini. Tetapi, bagi kepentingan perjuangan di pengadilan, ini jelas konyol. Ibarat senjata pamungkas tapi sudah keburu dikasih tahu ke publik. Sudah pasti, pihak sebelah akan merancang antisipasi untuk mematahkannya.
Apakah Hari Kemenangan Itu Sudah Tiba?  Apa  yang didapat Persebaya ini belum apa-apa. Hanya selembar kertas  sertifikat dari Depkumham. Itu pun sifatnya tak permanen. Pihak yang  dirugikan, masih  diberi ruang untuk mengajukan gugatan. Nah, kalo kalah, bagaimana?
Cukup? Belum. Keluarnya sertifikat itu tak akan berarti apa-apa bila  muka lama masih  bercokol di PSSI saat ini. Mau diakui hukum atau tidak, bagi  PSSI and gank, sudah tak ada tempat bagi Persebaya Surabaya. Yang diakui hanya Persebaya versi baginda (tahu kan maksunya?) Tak perlu legalitas  atau alasan lain. Pokoknya TITIK.  Nah, repot kan kalau kita sekarang terbelah gara-gara urusan yang tak pasti. Padahal,  masalah besar sudah menghadang di depan.
Belum lagi, pergantian pucuk pimpinan Surabaya saat ini. Risma lengser dan digantikan Pj yang  notabene orangnya Gubernur Soekarwo. Tahu sendiri, dimana posisi Pak  De ini dalam urusan dualisme Persebaya?
Ayolah, kawan semua. Kembali kita merenung. Perjuangan masih panjang. Butuh kekompakkan dan soliditas  semua untuk memastikan Persebaya eksis dan tampil di Kompetisi musim depan.  Kalau hanya kena embusan angin surga seperti ini kita sudah terbelah, tentu ini  menjadi berita gembira bagi musuh-musuh Persebaya Surabaya.(bonekjabodetabek.com)

masukan dan diskusi kirim ke punggawabola@gmail.com

Nyanyian Sunyi dari Wisma Persebaya Surabaya

♠ Posted by punggawa bola




Wisma  Persebaya yang dulu sangat melegenda, kini nyaris tak terdengar namanya.  Padahal, dari sini, dulu talenta-talenta hebat Surabaya lahir. Sebut saja, Andik Vermansyah yang kini merumput di klub Selangor FA Malaysia dan  Evan  Dimas yang saat ini jalani trial di klub Espanyol B Spanyol. Seperti apa kini suasana mess Persebaya?

Siang itu, suasana nampak lenggang.  Halaman wisma yang biasanya penuh oleh parkir mobil berbagai merk sepi melompong diganti rontokan daun kering di sana sini. Penampilan  Wisma yang dibangun di era Walikota dr Purnomo Kasidi  ini juga nampak kusam.   Selain sudah mulai pudar, di sana-sini cat juga mulai mengelupas.
Lapangan  Karanggayam atau biasa  disebut lapangan Persebaya juga sepi aktifitas. Padahal, dulu, di tiap sore, tribun kayu yang ada di sisi barat lapangan selalu penuh oleh sorak-sorai penonton.  Asyik menyaksikan latihan Persebaya ataupun  ramai oleh pertandingan  kompetisi internal Persebaya.  Kicau ramai suara itu berbaur dengan teriakan penjual lompia menawarkan dagangannya.  Merdu sekali.
Hantaman konflik sejak empat tahun lalu telah mencabut semua asa dan mimpi indah.  Kenangan dan pemandangan itu, kini tinggal romantisme semata.  Persebaya sempat terbelah menjadi dua, Persebaya Surabaya  dan Surabaya United (dulu pakai nama Persebaya ISL). Perpecahan ini buah dari konflik yang mendera PSSI.  Sayang, saat konflik  di PSSI berhasil disatukan,  luka Persebaya terlanjur menjalar kemana-mana.  Fanatisme, ego kelompok  menjadikan luka itu makin menganga membuat kian sulit menyembuhkannya.
Kini, yang tersisa  adalah keprihatinan. Seperti yang dirasakan dua legenda Persebaya, Soebodro  dan Johny Fahamsyah.  Dua nama yang pernah membawa harum nama Persebaya ini punya cara tersendiri menyambut hari lahir klub yang membesarkan mananya. Siang itu, keduanya memilih membersihkan puluhan  Piala yang memenuhi rak trophy Wisma Persebaya. Satu persatu dikeluarkan dengan sesekali mengingat memori di tiap piala yang dibersihkan.  “Sebagai orang yang pernah dibesarkan dan membela Persebaya, habis sudah kata-kata dan air mata melihat kondisi yang terjadi saat ini. Di tengah kesunyian, hanya ini yang bisa kami lakukan. Selamat ulang tahun Persebaya ku,” pungkasnya tanpa tahu kapan kebersamaan dan kejayaan itu akan kembali lagi. (pg)

Evan Dimas Jalani Trial di Espanyol 4 Bulan

♠ Posted by punggawa bola


ARENA, 2 Februari 2016. Evan Dimas dijadwalkan kembali terbang ke Spanyol untuk menjalani trial di klub RCD Espanyol B. Mantan kapten Timnas U-19 itu memohon doa restu dari masyarakat Surabaya dan Indonesia agar tidak mengecewakan selama 4 bulan ke depan trial di Espanyol B.

Kepergian Evan Dimas ke Spanyol atas beasiswa dari La Liga yang disalurkan melalui Nine Sports. Pemain berusia 20 tahun itu sangat berharap bisa mendapatkan kontrak bersama Espanyol B. ’’Doakan saya bisa menjalani program ini dengan baik,’’pinta Evan Dimas.

Sebelum bertolak ke Negeri Matador, pemain  produk asli Persebaya Surabaya itu akan bertemu Menpora Imam Nahrawi.  Untuk menjaga kondisi, Evan menjalani latihan ringan bersama sejumlah teman sekampung di lapangan Made, Kecamatan Sambikerep, Surabaya.

Evan Dimas telah belajar dari kegagalan saat trial di klub Unio Esportiva Llagostera pada Agustus 2015 lalu. Namun, kegagalan itu bukan karena masalah teknis melainkan Evan mengalami cedera kaki yang membuatnya mengubur impian bergabung. (sindo)